SISTEM E-LEARNING
UNTUK
MENINGKATKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR :
STUDI KASUS PADA
SMA NEGERI 10 BANDAR LAMPUNG
Abstrak
Setiap siswa mempunyai motivasi dalam dirinya untuk belajar.
Namun, sebagian dari mereka
sering kali merasa
takut untuk berpartisipasi dalam proses belajar, seperti takut selalu
tertinggal dalam mempelajari suatu topik atau tema pembelajaran demikian halnya
yang terjadi pada SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Agar siswa mempunyai motivasi
dalam proses belajar, maka metode yang digunakan dalam proses belajar harus
diperbaharui disesuaikan dengan minat, kecerdasan dan gaya belajar siswa. Salah
satu cara dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat agar siswa lebih
aktif atau banyak berperan dalam proses belajar.
Seiring perkembangan teknologi internet, sistem e-learning mulai
dikembangkan, sehingga kajian dan penelitian sangat diperlukan. Hakekat
e-learning adalah bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format
digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu mengembangkan sistem ini
tidak sekedar menyajikan materi pelajaran ke dalam internet tetapi perlu
dipertimbangkan secara logis dan memegang prinsip pembelajaran. Begitu pula
desain pengembangan yang sederhana, personal dan cepat, serta unsur hiburan
akan menjadikan peserta didik betah belajar di depan internet.
Metode pemilihan sistem e-learning dalam penelitian ini adalah
metode diskriptif, dengan pengumpulan datanya menggunakan kuesioner dan
wawancara. Sebagai media yang akan digunakan oleh siswa dan pengajar maka
dibangunlah Learning
Management System. Selain itu untuk
mengembangkan sistem e-learning yang belum ada di SMA Negeri 10 Bandar Lampung
pertama yang harus dilakukan adalah memilih sistem yang sesuai dengan
kebutuhan. Selain itu perlu
diperhatikan
infrastruktur penunjang yang nantinya akan menyokong pengembangan sistem
e-learning yang dipilih. Untuk pemilihan yang tepat diperlukan strategi yang
tepat pula, dalam pemilihan sistem dapat menggunakan analisa ANP.
1. Pendahuluan
Latar Belakang
Ilmu dan teknologi terutama teknologi informasi berkembang sangat
pesat. Pesatnya perkembangan teknologi ini berdampak pada perubahan sosial
budaya. Misalnya e-commerce merupakan perubahan radikal dalam aspek
ekonomi, di sektor pemerintahan ada e-government.
Demikian pula di sektor pendidikan sudah berkembang apa yang disebut e-Learning.
E-learning adalah
sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang
digunakan adalah jaringan komputer. Dengan dikembangkannya jaringan komputer memungkinkan
untuk dikembangkan proses belajar mengajar berbasis web, sehingga dapat dikembangkan ke jaringan
komputer yang lebih luas yaitu internet, Sistem
elearning dengan menggunakan internet disebut juga internet enabled learning.Penyajian e-learning berbasis
web ini bisa menjadi lebih interaktif. Sehubungan
dengan hal di atas maka sangatlah perlu bagi penyelenggara pendidikan untuk
memperhatikan kebutuhan masyarakat akan pendidikan serta kemudahan segala aspek
pendukungnya. E-Learning yang digunakan sebagai media harus bisa
dioptimalkan, sehingga penyelenggaraan pendidikan akan semakin berkembang. SMA
Negeri 10 Bandar Lampung merupakan satu dari banyak sekolah menengah atas yang
ingin memanfaatkan teknologi e-learning untuk
meningkatkan pelayanan pendidikannya. Beberapa sekolah menengah atas yang lain telah
memanfaatkan e-learning. Oleh karena itu SMA Negeri 10 Bandar
Lampung akan memilih sistem e-learning yang
sesuai untuk di implementasikan. Oleh sebab itu penulis akan melakukan
penelitian untuk membantu SMA Negeri 10 Bandar Lampung dalam mengembangkan
sistem e-learning disana.
Masalah
Penelitian
Identifikasi
Masalah
Saat ini pembelajaran dengan menggunakan sistem e-learning belum ada di SMA Negeri 10 Bandar Lampung,
sedangkan ditempat lain sudah banyak yang memanfaatkan elearning dengan sistem - sistem yang sudah dikembangkan.
Terdapat beberapa sistem yang mungkin bisa dijadikan pilihan.
Pembatasan
Masalah
Karena luasnya jangkauan yang muncul maka perlu pembatasan masalah
secara terinci sehingga permasalahan mudah dikontrol. Dari masalah di atas yang
akan diteliti adalah memilih sistem e-learning
dalam meningkatkan proses belajar mengajar di SMA Negeri 10 Bandar Lampung.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Diantara sistem
e-learning yang diberlakukan di lingkungan SMA Bandar Lampung, sistem manakah
yang tepat diimpementasikan di SMA Negeri 10 Bandar Lampung?
2. Bagaimana desain
sistem E-Learning yang sesuai kriteria?
Tujuan dan
Manfaat penelitian
Tujuan Penelitian
Tujuan dari Penelitian
ini adalah untuk :
1. Mengidentifikasi
sistem e-learning yang ada di Bandar Lampung
2. Memilih sistem e-learning yang tepat untuk di implementaikan di SMA Negeri
10 Bandar Lampung.
Manfaat
Penelitian
1. Penelitian ini
diharapkan dapat memberi informasi bagaimana memilih sistem e-learning yang tepat untuk diimplementasikan di SMA
Negeri 10 Bandar Lampung.
2. Penelitian ini
sebagai persiapan SMA Negeri 10 Bandar Lampung dalam melaksanakan program
Pemerintah sebagai Sekolah Katagori Mandiri / Sekolah Standar Nasional
(SKM/SSN)
2. Landasan
Pemikiran
Tinjauan Pustaka
Definisi E-learning
Berbagai pendapat dikemukakan untuk dapat mendefinisikan E-learning secara tepat. Bentuk E-learning sendiri cukup luas, sebuah portal yang
berisi informasi ilmu pengetahuan sudah dapat dikatakan sebagai situs E-learning. Menurut Jo Hamilton Jones tahun 2003, e-learning atau internet enabled learning menggabungkan metode pengajaran dan
teknologi sebagai sarana dalam belajar. Definisi lain dari E-learning adalah proses instruksi yang melibatkan
penggunaan peralatan elektronik dalam menciptakan, membantu perkembangan,
menyampaikan informasi, menilai dan memudahkan suatu proses belajar mengajar
dimana siswa sebagai pusatnya serta dilakukan secara interaktif kapanpun dan
dimanapun. Istilah e-Learning atau eLearning mengandung
pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi
e-learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu
definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley
tahun 2001 yang menyatakan: eLearning merupakan
suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke
siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer
lain.
[1] LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi
elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone.[1]
Matthew Comerchero dalam E-Learning
Concepts and
Techniques mendefinisikan: Elearning adalah sarana pendidikan yang mencakup motivasi
diri sendiri, komunikasi, efisiensi dan teknologi. Karena ada keterbatasan
dalam interaksi sosial, siswa harus menjaga diri mereka tetap termotivasi. E-learning efisien karena mengeliminasi jarak dan arus
pulang -pergi. Jarak dieliminasi karena isi dari e-learning didesain dengan media yang dapat diakses
dari terminal komputer yang memiliki peralatan yang sesuai dan sarana teknologi
lainnya yang dapat mengakses jaringan atau internet.
Dari berbagai macam definisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa
yang disebut sebagai e-Learning adalah konsep pendidikan yang memanfaatkan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam proses belajar mengajar.
Jenis aplikasi
e-learning
Berdasarkan teknologi
yang digunakan, elearning dibagi atas basis teknologi yaitu:
a. Computer
Based Training (CBT)
Era dimana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan
dalam PC standalone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi berupa materi dalam bentuk
tulisan maupun multimedia (video dan audio) dalam format MOV, MPEG-1 atau AVI.
Perusahaan perangkat lunak Asymstrix (sekarang bernama Clickllearn)
mengeluarkan tool pengembangan bernama Toolbook sedangkan Macromedia
juga mengembangkan perangkat lunak bernama Authorware. Dengan menggunakan tools yang disediakan maka pengguna mempunyai
kesempatan untuk mencoba soal-soal latihan tanpa batasan jumlah dan tingkat
kesulitannya. Namun, pada e-learning dengan
konsep ini, komunikasi yang terjadi hanya satu arah.
b. LMS
(Learning Management System)
Seiring dengan perkembangan teknologi internet di dunia,
masyarakat dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi
yang cepat diperoleh menjadi mutlak, dan jarak serta lokasi bukanlah halangan
lagi. Disinilah muncul sebuah Learning Management System atau biasa disingkat dengan LMS.
Perkembangan LMS yang semakin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi
masalah interoperability
antar LMS yang ada dengan
suatu standard. Standard yang muncul misalnya adalah standard yang dikeluarkan
oleh AICC (Airline
Industry CBT Committee), IMS, IEEE LOM, ARIADNE, dsb. Contoh
aplikasi ini adalah Atutor. Pada aplikasi ini terdapat fasilitas penulisan
materi, upload materi, penugasan, pembuatan bank soal, pengujian
dan penilaian serta fasilitas komunikasi antar pengguna yaitu chatting, forum
dan blog, dan dapat juga ditambahkan modul menarik lainnya seperti kalender dan
photoalbum.
c. Aplikasi
e-learning berbasis web
Perkembangan LMS menuju ke aplikasi e-learning berbasis Web secara
total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi
belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs portal yang pada
saat ini boleh dikata menjadi barometer situs-situs informasi, majalah, dan
surat kabar dunia. Isi juga semakin kaya dengan berpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam
berbagai pilihan format data yang lebih standard, berukuran kecil dan stabil.
Contoh aplikasi ini adalah Dokeos. Dokeos merupakan free software yang di release oleh GNU GPL dan
pengembangannya didukung oleh dunia internasional. Sistem operasinya
bersertifikasi yang
bisa digunakan sebagai
konten dari sistem managemen untuk pendidikan. Kontennya meliputi distribusi
bahan pelajaran, kalender, progres pembelajaran, percakapan melalui text/audio maupun video, administrasi test, dan
menyimpan catatan. Tujuan utama dari dokeos adalah menjadi sistem yang userfriendly
dan flexibel serta mudah dipakai.
Decision
Support Framework
Gory dan Scott Morton (1971), yang mengkombinasikan hasil
penelitian Simon (1977) dan Anthony (1965), mengajukan sebuah framework yang
merupakan gagasan Simon yang
menyatakan bahwa proses pengambilan keputusan memiliki rentang keputusan dari
yang paling terstruktur (disebut juga dengan istilah programmed) sampai pada keputusan yang paling tidak terstruktur
(disebut juga dengan istilah nonprogrammed).
Proses terstruktur adalah rutinitas, dan biasanya merupakan masalah yang sering
terjadi sehingga dibuatkan sebuah metode solusi yang standar. Proses yang tidak
terstruktur adalah masalah yang fuzzy, kompleks sehingga
tidak ada metode solusi yang cut-and-dried.
Simon juga menggambarkan ada 3 fase dalam pengambilan keputusan,
yaitu Intelligence (mencari kondisi yang membutuhkan suatu keputusan),
design (menemukan, membangun/ mengembangkan, dan menganalisa
kemungkinan arah tindakan) dan choice (memilih satu dari
beberapa kemungkinan yang ada). Bila dalam beberapa fase tersebut (bukan semua)
terdapat keputusan yang terstruktur maka Gorry dan Scott Morton menyebutnya dengan
istilah semi terstruktur. Pada masalah yang terstruktur, prosedur untuk mendapatkan
solusi yang terbaik (atau paling tidak yang cukup baik) sudah diketahui.
Sedangkan pada masalah yang tidak terstruktur, intuisi manusia sering kali
menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil adalah sebuah
keputusan semistruktur, dimana dibutuhkan sebuah Decision Support System untuk mendukung keputusan yang diambil pada
setiap kriteria dalam model pengambilan. Keputusan yang akan dihasilkan adalah sebuah
strategic
planning, berupa penentuan model
E-Learning yang sesuai untuk di implementasikan.
Beberapa
Fase dalam Proses Pengambilan Keputusan
Dalam mengambil keputusan, disarankan untuk mengikuti proses
pengambilan keputusan yang sistematis. Menurut Simon ada tiga fase utama, yaitu
Intelligence, Design dan Choice, kemudian Simon menambahkan fase keempat,
yaitu Implementation.
Intelligence dalam
pengambilan keputusan meliputi analisa lingkungan, baik secara bertahap maupun
berkesinambungan. Termasuk kegiatan mengidentifikasi masalah atau kesempatan
(termasuk juga memonitor hasil dari fase implementasi). Design meliputi kegiatan menemukan atau
mengembangkan dan menganalisa kemungkinan alternatif solusi. Termasuk kegiatan
memahami masalah dan menguji beberapa kemungkinan solusi. Sebuah model dari
masalah dalam pengambilan keputusan dibangun, diuji dan divalidasi. Choice adalah tahapan kritis dalam pengambilan
keputusan. Pada fase inilah keputusan sebenarnya dibuat dan komitmen untuk
mengikuti arah tertentu dari tindakan yang telah terpilih dilakukan. Batasan
antara fase design dan fase choice seringkali tidak jelas
karena ada beberapa aktivitas tertentu dapat dilakukan dalam kedua fase ini dan
karena seringkali seseorang berpindah dari aktivitas choice ke aktivitas design. Dalam fase Implementation, sebuah tindakan dilakukan sebagai bentuk
realisasi dari pemilihan sebuah solusi dari masalah yang ada.
Analytical
Network Process (ANP)
Metode Analytic
Network Process (ANP) adalah salah
satu metode yang mampu merepresentasikan tingkat kepentingan berbagai pihak dengan mempertimbangkan
saling keterkaitan antar kriteria dan sub kriteria
yang ada. Model ini merupakan pengembangan dari AHP sehingga lebih memiliki kompleksitas dibanding metode AHP. Metode Analytic Network Process (ANP) merupakan pengembangan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif. Keterkaitan pada
metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner dependence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda
(outer
dependence). Adanya keterkaitan tersebut menyebabkan metode ANP lebih kompleks disbanding metode AHP.
Menurut Saaty dalam Ascarya, ANP digunakan untuk menurunkan rasio
prioritas komposit dari skala rasio individu yang mencerminkan pengukuran relatif dari pengaruh elemen-elemen yang saling berinteraksi berkenaan dengan
kriteria kontrol. ANP merupakan teori matematika yang memungkinkan seseorang
untuk memperlakukan dependence dan feedback secara
sistematis yang dapat menangkap dan mengkombinasi
faktor-faktor tangible dan intangible.
Berbeda dengan Analytic Hierarchy Process (AHP), ANP dapat menggunakan jaringan tanpa harus
menetapkan level seperti pada hierarki yang digunakan dalam AHP.
Konsep utama dalam ANP adalah influence ‘pengaruh’,
sementara konsep utama dalam AHP adalah preferrence
‘preferensi’. AHP dengan asumsi-asumsi dependensinya tentang cluster dan elemen merupakan kasus khusus dari ANP.
Kelebihan ANP dari metodologi yang lain (AHP) adalah :
a. Kekuatan (power) Analytic Network Process (ANP) terletak dalam penggunaan rasio skala
untuk menangkap semua jenis interaksi dan membuat prediksi yang akurat, dan bahkan lebih, untuk
membuat keputusan yang lebih baik.
b. Kemampuannya untuk
membantu kita dalam melakukan pengukuran dan sintesis sejumlah faktor-faktor
dalam hierarki atau jaringan.
c. Kesederhanaan
metodologinya membuat ANP menjadi metodologi yang lebih umum dan lebih mudah diaplikasikan
untuk studi kualitatif yang beragam, seperti pengambilan keputusan, forecasting, evaluasi, mapping, strategizing,
alokasi sumber daya, dan lain sebagainya.
d. Dibandingkan dengan
metodologi AHP, ANP memiliki banyak kelebihan, seperti komparasi yang lebih
obyektif, prediksi yang lebih akurat, dan hasil yang lebih stabil dan robust. Software ANP (Superdecisions) dan manual ANP juga mudah didapat secara free download.
e. ANP akan sangat
membantu perusahaan dalam riset evaluasi dan pengambilan keputusan, terkait
pengembangan
organisasi & manajemen, produk, layanan dan marketing, karena akan lebih
akurat dan sangat efisien.
Pada jaringan AHP terdapat level tujuan, kriteria, subkriteria,
dan alternatif, dimana masing-masing level memiliki elemen. Sementara itu, pada
jaringan ANP, level dalam AHP disebut cluster yang dapat memiliki
kriteria dan alternatif di dalamnya, yang sekarang disebut simpul.
Dengan feedback, alternatif-alternatif dapat
bergantung/terikat pada kriteria seperti pada hierarki tetapi dapat juga bergantung/terikat
pada sesama alternatif. Lebih jauh lagi, kriteria-kriteria itu sendiri dapat
tergantung pada alternatif-alternatif dan pada sesama kriteria. Oleh karena
itu, hasil dari ANP diperkirakan akan lebih stabil. Dari jaringan feedback pada gambar II.4 dapat dilihat bahwa simpul
atau elemen utama dan simpul-simpul yang akan dibandingkan dapat berada pada clustercluster yang berbeda. Sebagai contoh, ada hubungan
langsung dari simpul utama C4 ke cluster lain (C2 dan C3), yang merupakan outer dependence. Sementara itu, ada simpul utama dan
simpul-simpul yang akan dibandingkan berada pada cluster yang sama, sehingga
cluster ini terhubung dengan dirinya sendiri dan membentuk hubungan loop. Hal ini disebut inner dependence. Elemen dalam suatu komponen/cluster dapat mempengaruhi elemen lain dalam komponen/cluster yang sama (inner dependence),
dan dapat pula mempengaruhi elemen pada cluster yang lain (outer dependence) dengan memperhatikan setiap kriteria.
Akhirnya, hasil dari pengaruh ini dibobot dengan tingkat
kepentingan dari kriteria, dan ditambahkan untuk memperoleh pengaruh keseluruhan dari masing-masing elemen.
Software
Super Decision
Super Decision mengimplementasikan Analytic Network Process yang dikembangkan oleh Thomas Saaty.
Program ini ditulis oleh Tim ANP, bekerja untuk Yayasan Keputusan Creative.
Super Decision yang digunakan untuk pengambilan keputusan dengan ketergantungan
dan umpan balik (itu mengimplementasikan Analytic Network Process, ANP, dengan banyak tambahan). Masalah
seperti itu sering terjadi dalam kehidupan nyata. Super Decision memperluas Analytic Hierarchy Process (AHP) yang menggunakan dasar yang sama proses
prioritas berdasarkan prioritas yang berasal melalui penilaian pada unsur
pasang atau dari pengukuran langsung. Dalam AHP unsur-unsur tersebut diatur
dalam struktur keputusan hierarki sementara ANP menggunakan satu atau lebih
jaringan datar cluster yang mengandung unsur-unsur. ANP tidak
membatasi pemahaman dan pengalaman manusia untuk pengambilan keputusan menjadi
model yang sangat teknis yang tidak wajar dan dibuat-buat.
Tinjauan
Studi
1. Pada tahun 2010
Nurhadi dalam penelitiannya membahas tentang “Pengembangan e-Learning Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)”.
Penelitian ini
bertujuan untuk:
(1) menghasilkan e-Learning pembelajaran PKn untuk SLTA (eCivics) dengan spesifikasi bentuk dan isi yang
telah ditetapkan,
(2) mengetahui kualitas kelayakan eCivics sebagai media pembelajaran, dan
(3) mengetahui efektivitas pembelajaran PKn
dengan menggunakan eCivics. Jenis penelitian adalah Penelitian dan
Pengembangan (R&D).
Berdasarkan model pengembangan eCivics maka disusunlah prosedur
pengembangan, yaitu tahap perencanaan, desain, dan pengembangan. Pada tahap
perencanaan dan desain dilakukan ongoing evaluation hingga menjadi produk awal.
Pada tahap pengembangan dilakukan validasi Ahli Media dan Ahli Materi (Tes
Alfa) untuk mengeliminasi permasalahan prosedur, kesesuaian dengan tujuan, dan
alur komunikasinya. Setelah dilakukan revisi produk awal, maka dilakukan Tes
Beta yang melibatkan siswa dan guru (klien) untuk mengetahui kelemahan eCivics ketika dicoba klien, sehingga direvisi pada
tingkat akhir. Setelah itu dilakukan Tes Sumatif untuk mengetes eCivics dalam pembelajaran nyata. Tes Beta dan Tes
Sumatif melibatkan siswa dan guru sebagai subjek coba. Siswa peserta Tes Beta sebanyak
lima orang: tiga siswa subjek coba dan dua siswa potensial (dari sekolah lain)
dan seorang guru PKn sebagai pemandu pembelajaran. Pada tahap Tes Sumatif,
kelas dibagi dua kelompok secara representatif, dimana masing-masing kelompok
sebanyak 15 siswa berperan sebagai sampel.
Kelompok I adalah sampel kelas dengan media eCivics (eC) dan kelompok II dengan media
presentasi Power Point (PP). Hal ini dibuat untuk mengetahui apakah hasil
belajar eC lebih baik dari PP sebagai media tradisional. Hasil penelitian
menunjukkan sebagai berikut.
(1) eCivics yang dihasilkan adalah sebuah sistem
manajemen pembelajaran (LMS) online yang dibuat dengan software
aplikasi moodle. Ecivics menyajikan
materi-materi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya untuk kelas
XI, SK ke-4, KD ke-5 beserta tes dan tugas-tugasnya.
(2) eCivics layak sebagai media pembelajaran PKn berdasarkan
validasi Ahli Media, Ahli Materi, siswa, dan guru dengan skala 5, kelayakannya
mencapai rerata skor 4,32 (kategori “sangat baik”).
(3) Efektivitas
pembelajaran PKn dengan menggunakan eC lebih baik daripada PP berdasarkan
reaksi dan sikap siswa terhadap media dan pencapaian hasil belajar siswa:
kognitif dan skill kewarganegaraan.
2. Pada tahun 2008
Desi Putra dalam penelitiannya membahas tentang "Strategi Pengembangan e-Learning di Lingkungan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta"
studi kasus pada Kantor Diklat Propinsi DKI Jakarta.
Tujuan penelitian ini
adalah
1) Mengidentifikasi
tingkat kesiapan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dalam pembaharuan sistem pembelajarannya
dengan menggunakan sistem e-Learning,
2) Membangun prototipe
e-Learning yang sesuai dengan tingkat kesiapan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta
dan
3) Memformulasikan
strategi pengembangan sistem pembelajaran dengan menggunakan pendekatan e-Learning di lingkungan Pemerintah Propinsi DKI
Jakarta.
Sedangkan untuk
analisanya penelitian ini menggunakan dua teknik analisis, yaitu analisis
rentang kriteria dan teknik AHP (Analytical Hierarchy Process) atau Proses Hirarki Analisis. Teknik analisis tentang kriteria
digunakan untuk menganalisis kondisi kesiapan pengembangan e-Learning, sedangkan Teknik AHP digunakan untuk
memformulasikan strategi pengembangan e-Learning di
lingkungan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Adapun untuk pembangunan prototipe e- Learning-nya digunakan tahapan pengembangan
aplikasi berbasis Web. Melalui teknik analisis dan tahapan pembangunan
e-Learning ini, diharapkan beberapa tujuan yang
ditetapkan dapat dicapai.
3. Pada tahun 2007 Saaty dalam penelitiannya
membahas tentang “Mencari Solusi Rendahnya Pembiayaan Bagi Hasil Di Perbankan
Syariah Indonesia”, menggunakan ANP. Penelitian ini membuktikan bahwa ANP menjadi
metodologi yang lebih umum dan lebih mudah diaplikasikan untuk studi kualitatif
yang beragam. Kecukupan data dalam ANP tidak menjadi syarat. Hal yang penting
adalah responden harus menguasai/ahli dalam masalah yang diteliti. Penelitian
ini juga membuktikan bahwa, kelebihan ANP dari AHP adalah komparasi yang lebih obyektif,
prediksi yang lebih akurat dan
hasilnya lebih stabil.
Dari ketiga pendapat pada penelitian yang telah diuraikan, maka
penulis mencoba mengikuti penelitian yang dilakukan oleh [Saaty, 2007] yang
menggunakan ANP dalam “Mencari Solusi Rendahnya Pembiayaan Bagi Hasil Di
Perbankan Syariah Indonesia”, penulis mencoba menerapkan pada “Sistem E-Learning Untuk Meningkatkan Proses Belajar Mengajar
Pada SMA Negeri 10 Bandar Lampung”, alasan penulis menggunakan ANP dan software super decision adalah karena metodologi yang lebih umum
dan lebih mudah diaplikasikan untuk studi kualitatif yang beragam. Kecukupan
data
dalam ANP tidak
menjadi syarat. Hal yang penting adalah responden harus menguasai/ahli dalam
masalah yang diteliti.
Tinjauan Obyek
Penelitian
Berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
No 0363/O/1991 tanggal 21 Juli 1991 SMA Negeri 10 Bandar Lampung merupakan
sekolah alih fungsi dari SPG Negeri 2 Tanjungkarang. SMAN 10 Bandar Lampung terletak
di jalan Gatot Subroto 81 Kelurahan Tanjung Gading Kecamatan Tanjungkarang Timur
Kota Bandar Lampung. SMAN 10 Bandar Lampung merupakan salah satu sekolah favorit
di kota Bandar Lampung, terutama dalam bidang non akademis.
Pada tahun pelajaran 2009/2010, SMAN 10 Bandar Lampung memiliki 22
lokal kelas dengan pembagian sebagai berikut: 7 lokal kelas X, 8 lokal kelas XI
dan 7 lokal kelas XII, dengan jumlah siswa aktif sebanyak 720 siswa, jumlah
guru PNS 55 orang dan guru Non PNS 6 orang, karyawan tata usaha sebanyak 13
orang serta tenaga layanan khusus dalam bidang Sistem Informasi Manajemen (SIM)
sebanyak 4 orang . Pelaksanaan pembelajaran di SMAN 10 Bandar Lampung dimulai
dari hari Senin dengan kegiatan belajar mengajarnya dimulai sejak pukul 07.00
sampai dengan pukul 15.00 WIB dan hari selasa sampai dengan hari Sabtu dengan
kegiatan belajar mengajarnya dimulai sejak pukul 07.00 sampai dengan pukul
14.00 WIB.
Kerangka
Konsep
Dalam obyek penelitian ini yang dilakukan di SMA Negeri 10 Bandar Lampung,
penulis membuat kerangka konsep sebagai berikut:
Untuk menentukan sistem E-Learning,
diperlukan suatu penilaian sistem elearning,
yang dapat diambil dari penilaian 3 (tiga) Wakil Kepala Sekolah untuk 3 (tiga) cluster
Fasilitas, Lisensi dan Tampilan. Untuk sistem e-Learning dapat
diambil sample dari 3 (tiga) jenis sistem e-Learning,
yaitu Computer Based
Training (CBT), Learning Management System (LMS) dan Aplikasi E-Learning Berbasis Web. Untuk cluster Tampilan ada 12 (dua belas) sampel yaitu Blog, Chatting, Email, Group, Kalender, Learning path, Link, Mailing list, Materi pelajaran, Photoalbum, Teleconference, Tracking. Untuk cluster Lisensi diambil 2 (dua) sampel yaitu Komersil
dan Open Source. Untuk cluster Tampilan diambil dari
6 (enam) sampel yaitu Atraktif, Fleksibel, Inovatif, Mudah digunakan, Mudah
dipelajari, Userfriendly. Evaluasi dari beberapa pihak tersebut, diolah
dengan metode ANP dan software Superdecision.
Maka akan menghasilkan prioritas sistem e-learning yang
sudah di desain dari masing-masing pihak sehingga menghasilkan desain yang baik
dan efektif, yang kemudian menghasilkan desain yang mudah dibaca dan cepat
dimengerti . Sebagai pengambil keputusan, Kepala Sekolah akan
memberikan penilaian terhadap prioritas sistem e-learning yang diusulkan berdasarkan penilaian
cluster tampilan, fasilitas dan lisensi dan juga berdasarkan interview /
kuisioner. Jika hasilnya sesuai maka akan dihasilkan SK sistem e-learning apa
yang akan di implementasikan. Tapi jika tidak, maka data tersebut akan di
evaluasi kembali sampai mendapatkan kesusaian.
Hipotesis
Diduga sistem Aplikasi E-Learning Berbasis Web merupakan sistem e-learning yang
sesuai
diimplementasikan di SMA Negeri 10 Bandar Lampung.
3. Desain
Penelitian
Jenis
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian untuk memilih sistem e-learning pada SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Adapun tahapan-tahapan
yang dilalui adalah :
1. Penelitian
Pendahuluan
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh variabel-variabel dalam penelitian,
Penulis menentukan variabel-variabel yang diperoleh dari literatur kemudian
dibuat kuesionernya dan disebarkan kepada pakar atau ahli dalam e-learning.
2. Kuesioner
Setelah memperoleh variabel-variabel dari penelitian pendahuluan,
selanjutnya akan dibuat kuesioner penelitian.
3. Mengolah hasil
kuesioner
Data yang diperoleh dari kuesioner akan diolah menggunakan
pendekatan ANP (Analytical
Network Process) dengan software Superdecision.
Metode
Pemilihan Sample/Sampling
Populasi
Responden atau sampel diambil dari pengembang dan pemerhati e-learning pada SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Adapun responden
ahlinya sebagai berikut:
1. Kepala Sekolah
2. Wakil Kepala
Sekolah Bidang Kurikulum
3. Wakil Kepala Sekolah
Bidang Humas
4. Wakil Kepala
Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana
Sampel
Penentuan sample dilakukan dengan teknik purposive, mengingat
penelitian ini hanya dilakukan di SMA Negeri 10 Bandar Lampung.
Metode
Pengumpulan Data
Penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan data dan informasi
yang diperlukan serta berhubungan dengan hal yang akan ditulis. Untuk
mengumpulkan data serta informasi yang diperlukan oleh penulis menggunakan
metode sebagai berikut :
a. Pengumpulan
Data Primer
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data primer dengan cara
memberikan kuisioner awal kepada Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA
Negeri 10 Bandar Lampung. Teknik yang digunakan adalah:
1) Daftar Pertanyaan (Questionaire)
Teknik pengumpulan data dengan jalan melakukan pembagian daftar
pertanyaan langsung kepada Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri
10 Bandar Lampung sehingga data yang penulis kumpulkan menggambarkan keadaan
yang sebenarnya.
Alat penelitian yang
penulis gunakan adalah kuesioner. Alasan yang mendasari pemakaian alat
penelitian tersebut adalah sebagai berikut, kuesioner merupakan salah satu alat
penelitian yang dapat digunakan untuk pendekatan penelitian survei.
Populasi responden yang digunakan pada penelitian ini adalah
Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Dengan
demikian responden penelitian diharapkan mengerti pertanyaan yang tercantum di
dalam kuesioner dan tidak akan mengalami kendala teknis dalam pengisiannya.
Dalam hal ini responden penelitian memiliki kemampuan membaca dan menulis. Penggunaan
kuesioner dapat meningkatkan efisiensi waktu dan sumber daya manusia. Efisiensi
waktu karena tim peneliti tidak perlu berinteraksi secara langsung dengan responden
imtuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian. Pertanyaan cukup
diajukan melalui kuesioner yang tentunya dengan pemberian petunjuk pengisian
terlebih dahulu. Penyebaran kuesioner dilakukan secara langsung kepada
responden yaitu Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Bandar
Lampung.
Dengan menggunakan kuesioner dapat memberikan kemudahan bagi
responden untuk memahami dan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik. Hal
ini dikarenakan responden memiliki waktu yang cukup lama untuk berpikir da menyelesaikan
kuesioner tersebut. Selain itu kuesioner membuat responden lebih nyaman dan
leluasa untuk menjawab pertanyaan.
2) Wawancara (Interview)
Pengumpulan data dengan cara tanya jawab langsung kepada Kepala
Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Bandar Lampung dapat digunakan
untuk menentukan kriteria dalam menentukan elearning
sistem.
b. Pengumpulan
Data Sekunder
Data Sekunder penulis dapat dari mengamati data, membaca,
mempelajari dan mengutip dari buku literatur, majalah, serta sumber- sumber
lain yang berhubungan erat dengan penulisan.
Instrumentasi
Penelitian
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner melalui
dua tahap. Pada tahap awal dilakukan pengamatan dan wawancara dengan Kepala
Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Tahap pertama
adalah menentukan faktor, kriteria dan alternatif elearning system. Pada tahap
selanjutnva dibuat kuesioner perbandingan berpasangan diantara cluster. Data
kuesioner diolah dengan pendekatan ANP dan menggunakan software Superdecision.
Teknik Analisis
Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif dan Analytic
Network Process (ANP). Analisis deskriptif
dilakukan melalui penyajian rangkuman hasil survey dan identifikasi dalam
bentuk tabulasi dan/atau grafik. Dengan analisis ini akan digambarkan kondisi
pengambilan keputusan di SMA Negeri 10 Bandar Lampung pada saat ini. Sedangkan
ANP digunakan sebagai instrumen untuk menentukan prioritas kebijakan dalam
pemilihan model e-learning yang sesuai di implementasikan di SMA Negeri 10
Bandar Lampung.
Langkah –
Langkah Penelitian
Langkah – langkah
penelitian yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah :
1. Pemilihan Tema,
Topik dan Judul Penelitian
2. Identifikasi
Kebutuhan Obyektif Penelitian
3. Identifikasi,
Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian
4. Perumusan Tujuan
dan Manfaat Penelitian
5. Studi
Pustaka/Telaah Teori
6. Perumusan Hipotesis
7. Identifikasi
Variabel dan Data Penelitian
8. Pemilihan Alat
Pengumpulan Data
9. Perancangan
Pengolahan Data
10. Metode Pengumpulan
Data
11. Teknik Pengambilan
Sampel Penelitian (Sampling)
12. Pengolahan dan
Analisis data
13. Penarikan
Kesimpulan
14. Pelaporan
4. Analisis,
Interpretasi Dan Implikasi
Pengelompokan
Data Cluster Dalam Menentukan Sistem ELearning
Penilaian sistem e-learning pada SMA Negeri 10 Bandar Lampung
dilakukan oleh 3 pihak, yaitu:
a) Fasilitas
Yang memberikan
penilaian pada cluster ini adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.
b) Lisensi
Yang memberikan
penilaian pada cluster ini adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Dan
Prasarana.
c) Tampilan
Yang memberikan
penilaian pada cluster ini adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang
Humas.
Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui interview dan kuesioner, maka setiap bagian mempunyai
node tersendiri dalam menentukan sistem e-learning. Node tersebut adalah :
a) Fasilitas
Blog, Chatting, Email,
Group, Kalender, Learning path, Link, Mailing list, Materi pelajaran,
Photoalbum, Teleconfrence, Tracking.
b) Lisensi
Komersil, Open source.
c) Tampilan
Atraktif, Flexibel,
Inovatif, Mudah digunakan, Mudah dipelajari, Userfriendly.
Standar
Penilaian Per Cluster Dalam Bagian
Berdasarkan hasil interview ke
masing-masing bagian, maka setiap node dalam bagian mempunyai bobot
masing-masing. Berikut adalah bobot masing-masing node dalam bagian :
a) Fasilitas
berikut node-node dengan urutan peringkatnya:
Node ----> Peringkat
Materi pelajaran menduduki
peringkat 1
Mailing list menduduki peringkat 2
Group menduduki peringkat 3
Email menduduki peringkat 4
Link menduduki peringkat 5
Chatting menduduki peringkat 6
Teleconfrence menduduki peringkat 7
Photoalbum menduduki peringkat 8
Learning path menduduki peringkat 9
Blog menduduki peringkat 10
Tracking menduduki peringkat 11
Kalender menduduki peringkat 12
b) Lisensi
Berikut Peringkat
Kepentingan Node dalam Lisensi.
Node --Ã Peringkat
Open source menduduki peringkat 1
Komersil menduduki peringkat 2
c) Tampilan
Berikut Peringkat
Kepentingan Node dalam Tampilan
Node Peringkat
Inovatif menduduki peringkat 1
Userfriendly menduduki
peringkat 2
Atraktif menduduki peringkat 3
Mudah dipelajari menduduki
peringkat 4
Flexibel menduduki peringkat 5
Mudah digunakan menduduki
peringkat 6
Untuk menentukan sistem e-learning,
dibutuhkan beberapa node ideal dari semua node bagian-bagian yang terkait dalam penilaian,
sebagai standar node. Berdasarkan hasil interview dan kuesioner, masing-masing bagian
menentukan angka standar node ideal sebagai berikut :
Fasilitas : 6 node
terbesar dari seluruh kriteria di fasilitas.
Lisensi : 1 node
terbesar dari seluruh kriteria di lisensi.
Tampilan : 3 node
terbesar dari seluruh kriteria di tampilan.
Data
Alternatif
Data alternatif diambil dari data sistem e-learning. Berdasarkan sistem tersebut, ada 3 sistem
sebagai perbandingan dalam pengujian. Dan untuk hasil perbandingan beberapa node dalam Fasilitas. Node yang dimaksud adalah : Blog, Chatting, Email, Group, Kalender, Learning Path, Link, Mailing List,
Materi Pelajaran, Photoalbum, Teleconfrence, Tracking.
Metode ANP
Dalam studi kasus penentuan sistem elearning, elemen alternative
berupa sistem elearning yaitu Aplikasi E-Learning Berbasis Web, Computer Based
Training dan Learning Management System. Sedangkan elemen dalam komponen/cluster yang lain yaitu cluster Fasilitas, cluster Lisensi dan cluster Tampilan, adalah criteria dari masing-masing
bagian/cluster. Perbandingan dalam cluster dan Perbandingan
antar cluster didapat dari kuesioner yang disebar ke responden.
Hasil
Penelitian
Dalam penelitian ini, digunakan metode ANP dengan bantuan software Superdecision untuk
mentukan sistem elearning.
Alternatif :
a) Sistem E-learning: Aplikasi E-Learning Berbasis Web
b) Sistem E-learning:
Computer Based Training
c) Sistem E-learning:
Learning Management
System
Hasil
Pengujian
Dari penelitian
yang dilakukan pada sistem e-learning, maka didapatkan:
a) Cluster-cluster
yang menentukan sistem e-learning.
Berdasarkan hasil interview atau
wawancara dan kuesioner, maka Fasilitas menentukan
6 node terbesar untuk menentukan sistem
e-learning. Lalu hasil interview atau
wawancara dan kuesioner, maka Lisensi menentukan 1 node terbesar untuk menentukan pengajar
matakuliah. Dan Berdasarkan hasil interview atau wawancara dan kuesioner, maka Tampilan menentukan 4 node terbesar untuk menentukan pengajar matakuliah.
b) Sistem e-learning yang paling tepat untuk diimplementasikan
adalah: Aplikasi E-Learning Berbasis Web
c) Hasil pengujian ini
telah duji validasi nya dengan pendapat human yaitu responden yang
mengisi kuesioner dan tertuang dalam kuesioner. Sistem elearning dari pengujian, diuji validasinya dengan
sistem e-learning yang diunggulkan dalam suatu bagian, tertuang
dalam kuesioner.
Implikasi
Penelitian
Dari penelitian yang telah dilakukan telah menghasilkan beberapa
kesimpulan dan implikasi penelitian.
a) Dari segi
Manajerial :
Pihak manajemen yang
terkait, perlu memperhatikan beberapa hal sebagai implikasi dari hasil tindak
lanjut penelitian yang telah dilakukan. Hal yang perlu mendapat perhatian,
antara lain adalah aturan atau kebijakan, peningkatan kualitas penggunaan
sistem e-learning, dan dari sisi personil atau user yang menggunakan sistem.
b) Dari segi Sistem :
Agar dapat mendukung
hasil analisa penelitian, perlu adanya kesiapan sistem yang berjalan baik. Hal
ini dilakukan agar sistem dapat memberikan dukungan hasil keputusan untuk
pimpinan, yaitu Kepala Sekolah. Hasil yang diberikan oleh sistem, adalah apa
sistem e-learning, dan kriteria apa saja yang ideal untuk
sistem e-learning. Hasil analisa berupa sistem e-learning, akan diurutkan berdasarkan prioritas
ranking sistem e-learning yang didapatkan dari hasil kuesioner per
sistem. Sedangkan kriteria ideal yang dihasilkan adalah hasil penggabungan
beberapa kriteria dari masing-masing pihak, yaitu Fasilitas, Lisensi, dan
Tampilan. Kriteria tersebut diambil beberapa dari prioritas masingmasng kriteria.
Untuk mendapatkan
sistem yang baik, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Di SMA Negeri 10
Bandar Lampung, pihak-pihak
yang terlibat untuk dapat memberikan dukungan sistem yang baik, antara lain adalah
pihak Wakasek Bid. Kurikulum, pihak Wakasek Bid. Humas dan pihak Wakasek Bid.
Sarana dan Prasarana. Software dan hardware yang
ada sekarang, perlu ditingkatkan lagi supaya bisa bekerja dan memberikan hasil
secara maksimal.
c) Untuk penelitian
berikutnya :
Penelitian ini
dirasakan masih banyak kekurangan. Hal ini karena, adanya beberapa kendala yang
dihadapi pada saat penelitian dan pengujian. Maka dari itu, perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk melengkapi kekurangan yang ada di penelitian ini.
Penelitian ini juga dapat dikembangkan untuk menyelesaikan masalah bagaimana menentukan
sistem e-learning. Hal ini diperkirakan mempermudah bagi
pihak Sekolah dalam penentuan sistem e-learning.
5. Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan analisa pada point 4, maka dapat
disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat 10
(sepuluh) node dalam menentukan sistem e-learning dari semua bagian yang terkait dengan uraian
sebagai berikut;
a) Dari Fasilitas : prioritas 6 nodenya adalah
Materi pelajaran, Mailing list, Group, Email, Link, Chatting
b) Dari Lisensi :
prioritas 1 nodenya adalah Open Source
c) Dari Tampilan :
prioritas 3 nodenya adalah Inovatif, Userfriendly, Atraktif
2. Sistem e-learning yang paling tepat untuk diimplementasikan
adalah Aplikasi E-Learning Berbasis Web.
3. Hasil pengujian ini
divalidasi dengan pendapat human yaitu responden yang mengisi kuesioner dan tertuang dalam kuesioner.
Saran
1. Penelitian dapat diterapkan pada SMA lainnya.
2. Penelitian ini dapat dikembangkan untuk
menyelesaikan masalah bagaimana menentukan sistem elearning.
3. Penelitan ini dapat dikembangkan lebih lanjut
dengan penajaman dan penambahan pada atribut faktor, elemen juga alternatif.
4. Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak
yang terkait, supaya sistem dapat berjalan dengan baik dan memberikan hasil
yang mendukung keputusan pimpinan.
Daftar Pustaka
[1] Wahono, Romi Satria, Artikel: "Meluruskan
Salah Kaprah tentang ELearning", http://romisatriawahono.net/ (Diakses 20
Agustus 2008), 2008
[2] Turban, Efraim, Jay E.
Aronson, Ting Peng Liang,” Decision
Support Systems and Intelligent Systems”, 7th edition, Prentice-Hall, New Jersey,
2005
[3] Saaty, Thomas L, Vargas, Luis G, “Decision Making with the Analytic Network Process”, 2006
[4] Dublin, L. and
Cross, J, Implementing eLearning:
Getting the Most from Your Elearning Investment, the ASTD International
Conference, May 2003.
[5] Hendy Hendharto,
Analytic Network Process (ANP) Method For Multi Purpose Research, Lokakarya,
Jakarta, Maret, 2008
[6] Romi Satria
Wahono, Sistem eLearning Berbasis Model Motivasi Komunitas, Jurnal Teknodik No.
21/XI/TEKNODIK/AGUSTUS/2007, Agustus 2007
[7] Thomas L. Saaty,
“The Essentials of the Analytic Network Process with Seven Examples”, Decision Making
with Dependence and Feedback: The Super Decisions Software, 1999
[8] Siahaan, Sudirman.
E-Learning (Pembelajaran Elektronik) Sebagai Salah Satu Alternatif Kegiatan Pembelajaran,
Sumber dari internet, 2004.
[9] Ben-Jeng Wang, Maw-Yang Hsu “Application of the
Analytical Network Process to select a channel type for econvenient chain
stores”, Journal of the Academy
of Business and Economics, March,
2003.
Sumber:
pascasarjana.budiluhur.ac.id https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCcQFjAA&url=http%3A%2F%2Fpascasarjana.budiluhur.ac.id%2Fwp-content%2Fuploads%2FNovi_TM_Vol2No2.pdf&ei=Kmg1U_fYG8WNrgfOwoH4DQ&usg=AFQjCNG3w2Ys_Adae_KhMshvQ1cRraeCew&sig2=DsdqDKgLet_IdXeOlzjbPA